Pages

Tidak Ada Toilet di Halte Busway

Terkadang ada persoalan ’seni’ yang bikin repot saat harus bepergian, maksud saya: air seni. Terkadang ketika Anda harus berjalan agak jauh di sepanjang jalan kenangan, eh sepanjang jalan di Jakarta, si seni pun menuntut

Mencari Jejak Sastra di Tanah Papua

Pembalut kelamin pria yang disebut koteka tergenggam di tangan seorang kenalan yang baru kembali dari tanah Papua. Menyusul cerita-cerita tentang masyarakat di daerah dimaksud, yang lebih menyiratkan kesan bahwa Papua benar-benar masih sangat tertinggal.

Asap Ganja di Langit Aceh

Ketika itu, saya sendiri belum baligh karena baru usia sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Bergaul dengan remaja-remaja di gampong yang berusia jauh di atas saya. Ikut juga bersama mereka di sebuah sekolah tua yang berada persis di pojokan gampong.

Rateb Meuseukat, Kesenian Tradisi Perempuan Aceh

Di atas panggung berukuran sekitar 3×4 meter, duduk bersimpuh perempuan muda berusia jelang dewasa. Mereka menyuguhkan gerak tubuh yang membentuk tarian. Berawal dengan gerakan-gerakan ringan dan pelan, biasanya lebih banyak gerakan tangan dan kepala, sampai kemudian menjadi lebih cepat.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

01 Mei 2013

Sisi Plus Film Java Heat



“Kalian Amerika hanya mau bicara saja, tapi tidak pernah mau mendengar!”

Itu adalah cuplikan kalimat yang meluncur di salah satu adegan di film bertitel Java Heat. Kalimat yang  diutarakan oleh tokoh utama, Letnan Hashim yang diperankan oleh Ario Bayu. Adegan itu berlangsung saat perwira di Detasemen 88 tersebut berdebat dengan Letnan Jake Travers yang merupakan mata-mata Amerika.


Sesuatu yang paling membekas di pikiran saya saat melangkah keluar dari bioskop seusai menonton film ini adalah kebanggaan. Iya, karena ini merupakan film langka. Langka dari sisi bahwa di sini terlibat beberapa figur yang memang berkebangsaan Amerika. Sebut saja Mickey Rourke yang berperan sebagai bos penjahat kelas dunia di film ini. Sosoknya adalah aktor USA yang sudah berperan di beberapa film terkenal Hollywood seperti Iron Man 2 dan The Expendables.


Lazimnya, di banyak film Amerika, terdapat banyak adegan mengada-ada. Di beberapa film, setting cerita berkaitan dengan Perang Vietnam di mana Amerika kalah dan rugi besar, bisa digambarkan seolah mereka sebagai pemenang. Berbeda di Java Heat, di sini Amerika sedikit ditelanjangi. Di film ini disebutkan sindiran-sindiran yang memperlihatkan tabiat “Negeri Paman Sam” apa adanya.


Terlebih lagi, posisi Letnan Jake yang diperankan Kellan Lutz sama sekali tak terlihat superior. Sesuatu yang lagi-lagi berbeda dari tokoh-tokoh penegak hukum Amerika yang kerap digambarkan seolah seperti malaikat. Dalam salah satu adegan duel antara Letnan Hashim dan Jake, agen Amerika itu mampu dirobohkan hanya dengan satu gerakan. Di sana, Hashim dengan bangga berucap, “Ini pencak silat! Seni bela diri khas Indonesia!”


Itu sebagian kecil kesan yang saya dapatkan dari film yang bermodal USD 15 juta tersebut. Selebihnya, saya melihat beberapa hal lain yang positif dari film ini:


1. Pesan nasionalisme
Penonjolan peran pada sosok Letnan Hashim yang mewakili Detasemen 88 sebagai figur yang saleh dan tegas meninggalkan kesan positif. Pasalnya, belakangan detasemen yang katanya didirikan untuk menumpas terorisme itu kerap digambarkan sebagai kesatuan yang sadis, plus berbagai steretype negatif lainnya. Setidaknya itu yang tergambar jika menyimak beberapa pemberitaan terkait kesatuan itu.


Di beberapa adegan, Letnan Hashim juga diposisikan lebih dominan daripada Jake yang sedikitnya mewakili ke-Amerikaan. Dalam beberapa adegan lain, Hashim juga menegaskan dirinya sebagai polisi yang bertanggung jawab dalam tugasnya. Selain, ia juga digambarkan sebagai polisi yang punya pendirian yang memberikan citra bahwa kepolisian di Indonesia berkarakter kuat. Di samping ia pun menjadi polisi yang memiliki sisi kemanusiaan tinggi. Hashim diperlihatkan sebagai polisi dengan perasaan halus yang tergambar dalam adegan saat ia men-talqin-kan (membantu mengucap syahadat menjelang sekarat) teroris yang menjadi musuhnya.


Adegan-adegan yang ditampilkan Hashim mengesankan bahwa polisi Indonesia sebagai figur yang penuh pengabdian, lurus. Terlepas, bahwa banyak catatan yang di luar film ini cenderung begitu parah menyudutkan kepolisian oleh pihak media, dan, tentu saja karakter beberapa oknum di kepolisian sendiri.


2. Mengangkat kelebihan Indonesia
Secara tak langsung, film ini mengangkat Indonesia. Alasannya, Candi Borobudur yang dijadikan sebagai salah satu tempat yang sangat ditonjolkan, ini jelas membantu memperkenalkan satu tempat yang selama ini menjadi simbol kebesaran peradaban dan sejarah di Indonesia.
Selain itu, juga digambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia di Pulau Jawa. Ini, dari sudut pandang internasional, jelas merupakan satu hal cukup layak diapresiasi. Pasalnya, jika hanya dengan film dokumenter takkan begitu saja menggugah orang luar mengenal negeri ini, maka dengan film ini justru akan membantu itu terjadi.


3. Tidak terlalu menonjolkan kekerasan
Sisi ini bagi saya merupakan satu kelebihan yang berada di atas kelebihan lainnya yang dimiliki film ini. Memang, terdapat beberapa kekerasan di dalamnya, apalagiJava Heat memang film laga. Namun, kekerasan di sini tidaklah terlalu vulgar. Beberapa aksi duel yang ditampilkan tidak begitu telanjang menampakkan sisi kekerasan itu.


Bahkan, jika di beberapa film lain yang memuat soal penculikan cenderung mengerasi tahanan untuk menguatkan akting pemain, di sini justru tak terlalu dimunculkan. Terdapat scene saat Letnan Jake ditahan karena dicurigai terlibat pengeboman, namun dalam ruang pemeriksaan ia nyaris tidak disiksa. Dari sisi ini, jelas itu menjadi sesuatu yang berbanding terbalik dengan yang kerap kita dengar di tengah masyarakat yang pernah mengalami ruang pemeriksaan di kepolisian.


Di sini, saya tidak mencoba mengulik kelemahan film ini hanya karena pertimbangan tak terlalu banyak film Indonesia yang bisa disandingkan dengan Java Heat! (FOLLOW: @zoelfick)

17 Desember 2012

Membaca Filosofi Messi


SEORANG perempuan bisa melahirkan seorang bayi, tetapi alam melahirkan manusia. Kalimat itu sempat saya jadikan kicauan di akun Twitter pribadi saya. Sebuah kesimpulan dari renungan kecil tentang dinamika di dunia bola dan bahkan kehidupan di luarnya. Belakangan, setiap mendengar nama Lionel Messi, ingatan saya kerap terbawa pada kalimat itu. Betapa, ia sudah menjadi kupu-kupu yang berhasil mengoyak kepompong. Satu keberhasilan, setelah melewati perjalanan panjang, untuk melepaskan diri dari sekadar hanya “seekor ulat”.

Ya, semua pesepak bola pasti berkeringat. Artinya, semua pesepak bola bekerja keras. Dikaitkan dengan sosok eks La Masia itu, dipastikan ada sesuatu yang lebih dari sekadar keringat yang sudah ia berikan. Logikanya, jika ada hal biasa didapatkan seseorang, maka itu seimbang dengan hal biasa saja yang ia lakukan. Sedang untuk yang luar biasa, tentu tidak memadai jika hanya mengandalkan sesuatu yang biasa saja. Apalagi, jamak diketahui, terdapat sederet nama lain yang muncul ke permukaan, namun belum benar-benar berada di atas dirinya---untuk saat ini. 

Bahkan, dibanding sosok sekaliber Maradona, masih terdapat keunggulan Messi. Bukan soal kemampuan dribbling, finishing, keseimbangan, yang sudah jamak dikenal. Tidak juga soal positioning, kemampuan passing dan ia sebagai pemain yang memiliki visi. Lebih dari itu, ia memiliki personality yang kuat. Nyaris tanpa cacat. Ini menjadi model, tidak sekadar di dalam lapangan, tetapi juga di luar lapangan. 

Di dalam lapangan, ia sudah kerap menuai pujian. Bahkan, Pep Guardiola, bekas entrenador Barcelona pernah berujar, “Hanya Messi yang mampu berlari lebih cepat bersama bola, dibanding dengan ia berlari tanpa bola.” Sedangkan Maradona, mengakui, “Saya mengenal banyak pemain hebat, tapi dalam hal kemampuan menguasai bola, hanya saya temukan pada diri Messi.” Layak ditelusuri, bagaimana itu terbentuk?

Filosofi Sejarah
Messi mengakui, dunia sepak bola justru ia kenal hanya berawal dari jalanan. Ia katakan sendiri, cara bermain pertama kali yang ia tahu tidak lebih dari berlari dan berlari mengejar bola. Sulit membayangkan kemudian hari ia justru bisa mengasah kemampuan di tempat bergengsi, La Masia. Nyaris mustahil meramalkan ia bisa menjadi seperti sekarang. 

Ia menjadi pemain termuda di La Liga yang mencetak 150 gol. Pencetak gol terbanyak dalam sejarah Barcelona, 265 gol. Selain itu, ia juga tiga kali meraih Ballon d’Or secara beruntun (sumber: Topskor, 31/10/2012). Tidak ketinggalan, ia juga meraih penghargaan FIFA World Player of The Year, 2009. Saat itu, ia mendapat nilai sebanyak 1.073, jauh meninggalkan Cristiano Ronaldo yang hanya mendapat nilai tidak lebih dari 352. Itu sebagian dari pencapaian besarnya.

Jika beranjak dari filsafat bahwa yang “terlihat” dipengaruhi yang “tak terlihat”, maka yang tak terlihat itu yang layak untuk ditelusuri. Di sini, yang tak terlihat tersebut lebih pada bagaimana seorang Messi berpikir? Bagaimana ia mengolah pengalaman? Bagaimana pengaruh kecinta anya pada bidang yang ditekuninya? Ringkasnya, di sana terdapat “pikiran” dan di sisi lain juga “perasaan”, dua hal yang tegas-tegas tidak bisa dilihat. 

Dalam filsafat, dikenal istilah “Cognoscere”, kata dari bahasa Latin yang merujuk pada “Kognisi” —belakangan juga dikupas di ranah Psikologi. Ini merupakan kepercayaan atau keyakinan yang tumbuh dalam kepribadian seseorang. Keyakinan itu sendiri diperoleh dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu. Ia lebih menunjuk pada proses mental dan memang tidak bisa diamati secara langsung, tidak bisa diukur secara serta-merta. Namun hal itu bisa dicermati lewat perilaku yang dimunculkan.

Bagi kalangan filsuf, istilah kognisi itu ditujukan untuk mendapatkan pemahaman pada bagaimana seorang manusia berpikir. Dalam kaitan dengan Messi, Messi mengawali mengakrabi bola ketika ia berusia lima tahun. Sedangkan yang menjadi pelatih pertama kali justru ayahnya sendiri, Jorge Horacio Messi. Di sana, ia berhubungan dengan Jorge sebagai ayah, tetapi juga sekaligus sebagai pelatih. 

Sebagai ayah, Jorge potensial menyiram cinta, juga berbagai hal berkait dengan emosional. Sedang sebagai pelatih, Jorge terbuka untuk menyiram dengan banyak hal berkaitan dengan logika. Menilik lagi dari latar belakang keluarga Messi. Ayahnya, seorang pekerja pabrik. Ibunya  merupakan petugas kebersihan. Sedikitnya ini memengaruhi alam pikiran Messi kecil. Hal itu menjadi stimulan yang memacunya menjadi pribadi lebih dari sekadar “biasa”. 

Terdapat hal-hal sederhana dan bahkan bisa dikatakan sangat terbatas, suatu kondisi yang mengitari perjalanannya dari kecil. Tetapi, kesederhanaan bukan masalah, sedangkan keterbatasan bukanlah suatu problem. Walaupun, saat ia ditemukan oleh Carles Rexach, ia juga mendapatkan kontrak yang hanya ditulis sangat sederhana, di atas serbet. Ia tinggalkan Newell’s Old Boys, setelah lima tahun digodok di sana. 

“Am esforc i sacrifici, tambe podreu arribar. Feu-ho. Val la pena” (dengan usaha dan pengorbanan, kau juga dapat melakukannya. Lakukan itu, kau akan dapatkan hasilnya). Selarik kalimat ini, pernah beberapa tahun terpajang bersama foto Josep Guardiola, Josep Mussons, Albert Ferrer, dan Guillermo Amor di ruang makan La Masia. Itu menjadi filosofi yang kini belum pernah mati. Kalimat itu, hari ini sudah berhasil diterjemahkan Messi dalam sederet pencapaiannya. (FOLLOW: @zoelfick)

ALSO PUBLISHED IN: topskor.co.id

13 Desember 2012

Mengenal Tokoh Malaysia yang Menghina Habibie


Beberapa  jam lalu,  saya sempat melayangkan email ke salah satu tokoh penting Malaysia, Datuk Anwar Ibrahim. Pertimbangan saya, karena beliau satu-satunya tokoh negeri jiran tersebut yang getol diskusi dengan saya secara pribadi via surat elektronik. Alasan saya juga, isu Zainuddin dan Habibie sedang menghangat. Meskipun memuat topik ini di koran saya jelas tak memungkinkan---koran olahraga. Namun, saya berpikir, pasti akan jauh bermanfaat karena kasus itu juga berkait langsung juga dengan Datuk Anwar.

Dalam hitungan detik, email saya mendapatkan balasan dari pucuk pimpinan Partai Pakatan Rakyat tersebut. Dari sana, Datuk Anwar menyarankan untuk mengikuti isi Twitter beliau karena memang di sana terdapat beberapa pendapatnya terkait isu anyar: penghinaan bekas Menteri Penerangan Malaysia terhadap B.J Habibie yang notabene eks Presiden Indonesia.

Tak lama, saya mengikuti petunjuk Anwar Ibrahim. Saya coba perhatikan isi twit tokoh Malaysia yang pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Malaysia ini.  Di beberapa twit pendek yang lebih banyak sebagai responnya, Anwar memperlihatkan dirinya sebagai pengagum Habibie. Setidaknya, terlihat dari pernyataan twitnya, "(Habibie, tak hanya putra terbaik Indonesia) tetapi juga seantero Melayu."*

Sebaliknya, berkait dengan sosok yang sedang disorot akhir-akhir ini, Zainuddin bin Maidin, eks Menteri Penerangan yang berlatar belakang jurnalis itu merupakan pengagum Soekarno dan Soeharto. Terkait sosok ini, Anwar menyebut Zainudin sebagai sosok yang memiliki pikiran yang sempit. Anwar menyebut dengan bahasanya, "Minda Maidin telah lama terpenjara!"

Dari beberapa sumber saya mencoba melihat, siapa sebenarnya Zainuddin tersebut? Ia merupakan anggota partai penguasa di Malaysia, United Malays National Organization (UMNO). Ia terlahir pada 29 Juni 1939 dan berdarah campuran Melayu dan India. Mengawali karirnya sebagai jurnalis di Utusan Malaysia dari 1951 sampai dengan 1982.** Sampai kemudian ia menjadi anggota senat, di Malaysia disebut dengan Dewan Negara pada 1998, saat berusia 59 tahun.

Di negeri tetangga tersebut, Zainuddin adalah tokoh kenamaan dengan gelar bergengsi untuk ukuran negara setempat. Pada 1996, ia dikukuhkan sebagai tokoh yang berhak atas gelar Datuk lewat penghargaan Pingat Jasa Negara.  Lantas, 10 tahun kemudian, pada 2006 ia mendapatkan gelar lebih tinggi, Datuk Seri lewat penghargaan Derjah Gemilang Seri Malaka.

Kemudian, tiga tahun lalu pada 2009, ia dikukuhkan dengan gelar yang jauh lebih tinggi, Tan Sri, dengan penghargaan Panglima Setia Mahkota. Dengan sederet gelar tersebut---ia juga mendapatkan enam gelar penting lainnya--menegaskan, bahwa Zainuddin merupakan figur penting di negara penganut Federal Demokrasi Parlementer tersebut.

Sumber masalah
Gonjang-ganjing timbul beriringan dengan tulisan Zainuddin yang bertajuk: "Persamaan BJ Habibie dengan Anwar Ibrahim". Tulisan tersebut bertempat di tajuk rencana harian Utusan Malaysia yang terbit pada tanggal 10 Desember 2011. Di sana, ia menulis bahwa Habibie merupakan presiden paling singkat yang menjabat. Menurutnya, Habibie tersingkir karena ia adalah pengkhianat negara.

Tulisan itu lahir, selidik punya selidik, setelah mantan presiden Indonesia usai Soeharto lengser ini diundang Anwar Ibrahim. Jamak diketahui, sosok Anwar merupakan rival berat Partai UMNO. Habibie yang pernah menjabat Menteri Riset dan Teknologi di era Orde Baru itu diundang untuk berbicara di Universiti Selangor.

"Dia disingkirkan setelah menjadi presiden Indonesia hanya satu tahun lima bulan karena menuruti desakan Barat untuk menggelar referendum rakyat Timor Timur yang menyebabkan wilayah ini keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 30 Agustus 1999," urai Zainuddin di tajuk rencana surat kabar yang beralamat di Jalan Chan Sow Lin tersebut.

Di tulisan itu, ia ingin menjadikan Anwar Ibrahim sebagai titik bidik. Terlihat dari cara ia berpendapat, bahwa kesamaan antara Anwar Ibrahim dan Habibie adalah, keduanya sebagai musuh dalam selimut pemimpin di masanya.

"Pada hakikatnya, mereka berdua adalah Dog of Imperialism," tuding Zainuddin dalam tulisannya. Tak pelak, Anwar Ibrahim juga membalas tudingan yang disampaikan rival politiknya itu. Di surat kabar Keadilan Daily, Sang Datuk mengatakan, Zainuddin melakukan itu karena ia kecewa. Pasalnya, sosok tersebut kalah dari partai Anwar, Partai Keadilan Rakyat.

Bagaimana tanggapan Habibie? Sampai tulisan ini ditayangkan, ia terlihat tidak terbeban. Sepertinya eks Institut Teknologi Bandung ini menganut konsep, "Don't sweat with a small stuff." Namun, sebaliknya bagi kalangan politisi. DPR bahkan berencana melayangkan gugatan terkait tulisan Tan Sri Zainuddin bin Maidin. Begitu juga halnya dengan jejaring sosial, baik Facebook maupun Twitter dibanjiri dengan topik persoalan tersebut. Sepertinya, hubungan kedua negara bisa saja menjadi kian memburuk pasca kasus ini.

Terkait itu pula, Anwar Ibrahim berujar, "(Meski hubungan kedua negara memburuk) namun kami akan berusaha untuk memperbaikinya," demikian harapan Yang Berhormat Dato' Seri Anwar Ibrahim. (@zoelfick

*Bahasa saya sesuaikan dengan bahasa Indonesia.

**Sumber: http://pmr.penerangan.gov.my/

30 Juli 2012

Wisata Tsunami Meulaboh: Dari Ujoeng Kareung ke Suak Raya


Menjejak langkah di Bumoe Teuku Umar—gelar untuk Meulaboh—akan terasa jejak musibah besar 2004, tsunami. Kota kecil yang dikelilingi laut itu jauh sebelumnya dikenal sebagai tempat seorang pahlawan nasional, Teuku Umar menjemput kematiannya. Belakangan, setelah kejadian musibah delapan tahun lalu, Meulaboh diidentikkan sebagai kawasan terparah terkena imbas tsunami. Nah, sebagai destinasi wisata, apa yang bisa dilihat di tempat ini?

Dari Ujoeng Kareueng, Anda akan mendapati kawasan ini seperti kapal yang berdiri tenang di tengah laut. Dikelilingi pepohonan kelapa yang berdiri berderet-deret sepanjang jalanan pantai, membuat kawasan itu seperti dipagari keindahan. Batu-batu karang yang ada di sana, lengkap dengan pembatas laut, kian lengkaplah pemandangan alam yang disuguhkan pantai itu.

Dari 1998, saya sudah menetap di kota ini sendiri saja. Ketika itu, saya sedang menempuh pendidikan di sana. Sampai pada 2006 memilih untuk mengontrak salah satu rumah persis beberapa meter saja dari bibir Pantai Suak Sigadeng. Dari Suak Sigadeng ke Ujoeng Kareung memakan waktu sekitar dua jam, jika ingin berjalan-jalan sepanjang pantai dengan berjalan kaki.

Ujoeng Kareueng memang tidak memiliki pantai berpasir seperti halnya Sigadeng. Namun, di sini terdapat tempat untuk menenangkan pikiran, bersama pelabuhan kecil yang bisa dijadikan tempat untuk bongkar muat barang dari berbagai wilayah nusantara. Juga, terdapat banyak orang yang memanfaatkan ketenangan tempat itu dengan melempar kail. Jelang akhir pekan, dari pagi sampai jauh malam hari, biasanya banyak terdapat penduduk yang menghabiskan waktu dengan mengail di tempat ini.

Sebagian remaja yang sedang dibuai asmara, tak jarang, mereka menjadikan kawasan ini sebagai sasaran untuk mereka melukis cerita cintanya seperti drama-drama percintaan di televisi. Sayangnya, tentu di sana mereka tidak leluasa untuk berdua, karena qanun-qanun (aturan daerah) yang memang kental dengan keislaman, memagari keleluasaan itu.

Tidak kalah, juga dengan siswa-siswa dari berbagai sekolah yang ada di kabupaten Aceh Barat—yang merupakan kabupaten Meulaboh—menjadikan tempat itu sebagai destinasi wisata mereka selepas ujian. Mereka bisa leluasa bermain-main di sana. Bukan hanya Ujoeng Kareung, tapi juga Pantai Barat, Suak Ribee, dan Suak Raya. Pasir di pantai itu demikian memukau. Tak ayal, pengunjung dari berbagai kawasan, juga dari luar daerah sering mendatangi pantai itu untuk berpiknik.

Di sepanjang pantai, dari Ujoeng Kareung sampai Suak Raya, bahkan Suak Timah, banyak tersedia tempat untuk berteduh yang terdiri dari jamboe-jamboe. Di jamboe-jamboe itu, tersedia berbagai minuman dan juga makanan khas Meulaboh. Air kelapa muda menjadi sasaran banyak pengunjung setiap mereka berkunjung ke tempat tersebut.

Biasanya, kelapa muda itu memang dipetik oleh penjual di kawasan itu langsung di lokasi. Karena, lagi-lagi karena di sana berjajar pohon kelapa dengan jumlah yang tidak terhitung. Sebagian dari pohon kelapa itu memang dimiliki oleh penduduk setempat. Meski ada juga di antaranya yang memang sudah tidak memiliki empunya, karena banyak juga dari pemilik yang sudah meninggal dunia ketika tsunami 2004 menyambangitanoeh Johan Pahlawan itu.

Tidak hanya itu, Kopi Tubruk, juga menjadi minuman yang paling digemari oleh pengunjung yang menyambangi tempat ini. Sambil menikmati udara jelang sore, sambil menanti saat matahari yang perlahan tenggelam. Percikan cahaya merah di langit yang seperti berbatasan dengan laut itu akan kian meresap di sanubari, seiring kopi tubruk terhirup pelan-pelan. Apalagi ditambah dengan Mie Aceh yang memang sangat khas di tempat itu, acara bersantai sambil menikmati pemandangan pantai akan semakin kuat terasakan.

Jika ingin mandi di sana, Ujoeng Kareueng bukanlah tempat yang direkomendasikan. Walaupun di sini, ombaknya terbilang tidak terlalu ganas. Persoalannya, karang-karang di bawah laut yang tajam, bisa membahayakan Anda. Sedangkan di sisi pantai yang segaris dengannya, seperti Suak Raya, dan Pante Barat, sering menjadi tempat yang sangat diminati untuk Anda yang hobi berenang. Hanya saja, harus benar-benar mampu membaca kondisi cuaca. Sebab, dalam beberapa kondisi, gelombang besar sering kali menjadi penyebab timbulnya korban di sini.

Tidak bisa ditutupi, beberapa kali terdapat beberapa wisatawan dari luar negeri yang mencoba bermain bersama ombak di sini. Sayangnya mereka harus menjemput ajal di sini. Kelelahan fisik, membuat mereka tidak kuasa melawan keganasan ombak di sini. Tidak kurang, beberapa personil militer yang pernah ditugaskan ke Meulaboh tidak sedikit yang meninggal di kawasan pantai ini. Dalam lima tahun terakhir, terdapat angka kematian sekitar tujuh kasus kematian. Lagi-lagi ini kembali pada kemampuan membaca kondisi laut.

Biasanya, penduduk setempat akan dengan senang hati untuk menjelaskan keadaan laut di sana. Kedekatan mereka dengan pantai di sana sedikitnya membantu pemahaman mereka terhadap laut itu dengan cukup baik. Untuk itu, jika tertarik ingin berenang, usahakan untuk menanyakan dulu pada penduduk setempat, bagaimana kondisi laut. Tentunya, agar bisa menghindari kemungkinan buruk semisal kematian.

Menelusuri sepanjang garis pantai dengan panjang sekitar 10 kilometer di sana, yang paling menarik adalah bekas-bekas tsunami yang masih tersisa. Terdapat bekas jembatan yang lumayan besar yang sebelum musibah 2004 menjadi sarana penduduk sekitar untuk bepergian ke luar kabupaten. Selain, juga bekas-bekas rumah-rumah penduduk yang hanya menyisakan pondasi saja.

Melihat pemandangan itu, sedikitnya Anda akan terbawa pada ekstase, seperti apa penduduk setempat berjuang di tengah air laut yang menggenangi kampung mereka. Betapa, hanya sebagian kecil saja dari penduduk di desa-desa di sana yang berhasil menyelamatkan diri.
Saya sendiri, biasanya memanfaatkan waktu sore untuk berjalan-jalan di sekitar kawasan ini. Tentunya, saya bukan untuk berenang. Alasannya, kemampuan saya berenang hanya untuk sungai-sungai saja, sedang untuk laut dengan sejarah saya sebut di atas, saya tidak punya nyali yang cukup besar. Justru, sepanjang pantai itu, saya hanya menikmati bertemunya telapak kaki dengan pasir-pasir halus yang menghampar.

Sunset atau momen ketika matahari jelang tenggelam acap menjadi saat yang paling diminati. Karena alasan, dari sepanjang bibir pantai ini, semua itu kian terlihat jauh lebih tegas. Perpaduan warna langit senja hari, dengan warna laut terasa seperti sebuah lukisan yang teramat sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Di garis pantai itu, tidak hanya jejak tsunami saja yang tersisa. Namun di sana juga terdapat sejarah, salah satu pahlawan nasional, Teuku Umar ditembak mati di Batee Puteh.

Jadi, berkunjung ke lokasi ini, merupakan kunjungan menapaktilasi musibah besar yang mendunia, tsunami 2004. Di samping juga menapak-tilasi mmomen yang menyejarah tentang pahlawan yang sering mengibuli Belanda itu. Sensasi apa yang bisa Anda rasakan di sini, hanya bisa terjawab jika Anda sendiri yang menyediakan waktu untuk berlibur ke sana.

Untuk Anda menginap, Hotel Meuligo, Hotel Tiara, dan beberapa hotel lain tersedia di tengah kota yang tidak terlalu jauh dari pantai ini. Biasanya, tarif hotel tersebut berkisar IDR 300.000 sampai dengan 1,5 juta. (FOLLOW: @zoelfick)

Pantai Legenda di Aceh Selatan


Jika pernah mendengar cerita tentang Puteri Naga dari Aceh, maka lokasi yang diidentikkan dengan legenda itu adalah kota bernama Tapaktuan. Jika dalam cerita itu digambarkan Sang Puteri begitu cantik rupawan, maka sejatinya yang benar-benar cantik itu adalah kotanya sendiri. Diapit oleh bukit-bukit yang berbatasan langsung dengan lautan membuat kabupaten ini menjadi destinasi wisata yang cukup mampu mengundang decak kagum.

Jika Anda berangkat dari arah Medan, Sumatra Utara, begitu tiba di kabupaten ini, di sisi kiri akan terlihat laut yang begitu anggun. Sedang di sisi kanan, berdiri gunung dan bukit yang tinggi dengan pepohonan hijau. Tak pelak, kombinasi dua warna menyejukkan itu, mampu memberikan kesejukan untuk Anda.

Di sini, Anda bisa menyambangi Pantai Tapaktuan. Sebuah pantai yang disebut-sebut sebagai tempat berkelahinya Teungku Tapa saat merebut Puteri Naga yang diklaim oleh sepasang naga sebagai anak mereka. Legenda itu dikuatkan lagi dengan bentuk jejak yang memang mirip telapak kaki raksasa yang bersisian dengan laut. Di jejak kaki itu, biasanya wisatawan menyempatkan diri untuk berfoto-foto.

Di Aceh, sebagian masyarakat memang meyakini bahwa jejak kaki itu adalah bukti bahwa legenda Teungku Tapa dan Naga merupakan cerita yang benar-benar terjadi. Namun, banyak kalangan yang juga percaya bahwa itu hanya cerita pengantar tidur saja. Meski demikian, sedikitnya cerita itu dikenal oleh hampir oleh seluruh masyarakat Aceh, bahkan oleh sebagian masyarakat nusantara lainnya.

Di pantai tempat berada telapak kaki raksasa itu, sebagian masyarakat kerap memberitahukan pada pendatang untuk benar-benar menjaga pantangan-pantangan yang harus dijaga. Tidak dibenarkan tertawa keras-keras, tidak boleh memaki di lokasi itu, dan beberapa pantangan lainnya. Diyakini, jika melanggar itu, berbagai hal yang tidak terduga bisa saja terjadi. Seperti misal datangnya air laut yang naik ke bukit tempat beradanya telapak kaki besar itu.

Terlepas logis tidaknya hal itu, namun dianjurkan untuk dituruti. Alasannya, paling tidak sebagai sikap hormat tamu terhadap penduduk setempat. Karena lokasi ini dipandang oleh sebagian masyarakat sebagai tempat yang sakral. Pastinya, pantangan-pantangan yang disebut itu memiliki alasan tersendiri yang memang tidak selalu dijelaskan dengan bahasa gamblang.

Dari atas bukit tempat telapak kaki itu berada, Anda akan dibuat takjub tidak hanya oleh bekas kaki raksasa itu. Namun juga hamparan laut luas, terlihat seperti permadani indah. Bisa dipastikan, pemandangan laut dari atas bukit itu akan membawa Anda pada ekstase yang tidak mudah digambarkan. Anda benar-benar akan merasakan diri sendiri seperti satu titik yang tidak berdaya apa-apa di hadapan laut yang terlihat begitu gagah dari sana.

Untuk menuju ke lokasi, Anda harus melewati beberapa tanjakan yang lumayan melelahkan. Akan tetapi ini menjadi tantangan tersendiri buat Anda. Sedikit kelelahan itu akan terbayar jika sudah tiba di tempat beradanya jari-jari kaki sebesar tubuh manusia, dan lebar serta panjangnya telapak kaki yang terdapat di sini berkali-kali ukuran tubuh manusia. Bisa Anda bayangkan, seberapa besar tubuh manusia itu, andai bekas telapak kaki ini benar-benar dimiliki oleh manusia jaman dahulu yang konon melawan naga di lokasi dimaksud.

Sedangkan di Kota Tapaktuan sendiri, tepat di Gampong Padang, terdapat sebuah kuburan dengan panjang sekitar tiga meter lebih. Inipun menjadi salah satu tempat yang kerap dikunjungi masyarakat wisatawan dari berbagai wilayah dan juga mancanegara. Kuburan ini diyakini masyarakat sebagai tempat berbaringnya jasad sosok teungku (ulama) yang telah melawan naga yang diceritakan di atas.

Beberapa jenak di sana,  Anda bisa juga menelusuri bukit-bukit yang memang berada tidak jauh dari pantai itu. Di bukit-bukit tersebut, terdapat salah satu tempat yang bernama Ie Dingin. Ini adalah tempat beradanya air terjun yang bertingkat-tingkat. Dari satu tingkat ke tingkat lainnya, butuh keberanian mendaki bukit dan batu.

Berdasar penjelasan masyarakat di lokasi itu, air terjun ini memiliki tujuh tingkat. Tapi, saya sendiri, saatmencoba mendakinya, hanya kuat sampai tingkat ketiga saja. Bukan apa-apa, tapi karena untuk bisa menuju ke sana benar-benar harus melawan risiko tergelincir. Apalagi jika hujan, fasilitas mendaki yang hanya mengandalkan akar-akar pohon, sangat kurang meyakinkan untuk bisa meneruskan pendakian. Jika terpeleset, batu-batu besar sudah menunggu untuk pecahkan kepala Anda atau mungkin mematahkan tulang-tulang.

Tapi bukan berarti tidak ada yang berani untuk datang sampai ke tingkat tertinggi. Biasanya yang masih remaja lebih kuat untuk mendaki tanjakan-tanjakan di air terjun itu. Mereka dengan gembira menapaki jalan setapak mendaki dengan hanya mengandalkan urat-urat dan akar kayu saja. Beberapa kali saya ke tempat ini, terakhir pada 2008, tidak terdengar adanya korban yang mengalami kecelakaan di sini. Artinya, kesempatan untuk melihat seperti apa keindahan di puncak sana, hanya bagi mereka yang memiliki nyali yang memadai.

Di sini, memang tidak disediakan hotel untuk menginap. Beberapa tahun lalu, memang ada semacam rumah singgah, namun tidak saya ketahui, belakangan sudah tidak lagi dibuka. Jadi, jika penginapan menjadi persoalan, mau tidak mau harus ke Kota Tapaktuan lagi. Di sana saja yang menyediakan berbagai pilihan penginapan tergantung ukuran isi kantong yang dimiliki. Meskipun, biasanya, seperti kabupaten-kabupaten Aceh lainnya, kisaran biaya penginapan, juga bervariasi dari IDR 300.000, 500.000, atau 1.200.000.

Jika makanan menjadi pertanyaan. Ini tidak perlu dicemaskan. Karena Tapaktuan merupakan kawasan lalu lintas pantai barat selatan menuju ke Medan dan sebaliknya, tak ayal terdapat banyak sekali warung makan yang buka siang malam. Tidak sedikit di antaranya yang berdiri di bukit-bukit yang bersisian dengan laut. Jadi, sambil Anda menyantap hidangan makanan, masih bisa melihat pemandangan laut, juga suara debur ombak yang berada di bawah lantai tempat Anda melahap makanan. Ini tentunya membawa sensasi tersendiri bukan?

Jika Anda berasal dari luar Sumatra, untuk ke sini sebaiknya memilih pesawat sampai ke Medan saja. Alasannya, jika Anda memilih pesawat ke Banda Aceh, hanya akan menyulitkan. Bukan apa-apa, karena Tapaktuan lebih mudah dijangkau dari Kota Medan.

Dari pusat provinsi Sumatra Utara, Anda hanya butuh tumpangan bus dengan biaya sekitar IDR 30.000 untuk ke kota ini. Dengan waktu perjalanan cuma sekitar 4-5 jam. Bandingkan jika dari Banda Aceh, Anda harus habiskan waktu ke sini sampai 9-10 jam. Melelahkan bukan?

Meskipun kawasan wisata ini disebut Kota Legenda, namun jangan khawatir, karena keindahannya tidak sekadar legenda. Keindahan alam kawasan ini benar-benar ada dan tidak akan pernah Anda lupakan sampai kapanpun. Untuk pecinta petualangan, Tapaktuan menjadi sasaran wajib perjalanan Anda! (FOLLOW: @zoelfick/Gbr: Anonim)


Also Published in: Kompasiana

17 Juli 2012

Pemilik Rapor Merah: Foke atau Jokowi?

Saya merasa tidak menaruh rasa heran saat melihat berita yang dilansir TEMPO.CO hari ini (16/7). Di sana disebutkan masing-masing kandidat memiliki dana yang berbeda jauh satu sama lain. Jokowi hanya memiliki dana yang cenderung ala kadar, 9 miliar. Sedang Foke, sekilas seperti demikian realistis dengan 'kebutuhan' warga kota yang dulu bernama Batavia ini. Ia memiliki 70 miliar dana untuk 'membeli' kursi gubernur, andai rakyat Jakarta menjualnya.

Dari sisi keuangan, terang saja Jokowi kalah jauh. Tapi, ketika melongok kembali hasil pemilihan pertama, justru Foke yang dibuat tak berkutik. Mengutip bahasa dalam dunia sepak bola, 1-0 diraup skuat  Jokowi.

Mencoba melihat-lihat lagi, kenapa dengan uang sebegitu bisa membuat wali kota Solo itu bisa melenggang di atas kumis Foke? Pertama sekali, saya kira tidak lebih dari persoalan rapor masing-masing. Taruhlah Jokowi hanya juara tingkat kabupaten/kota, itu tidak akan berguna apa-apa andai Foke yang lama di pentas provinsi juga muncul sebagai juara. Sebab, memang terang saja juara kabupaten/kota jauh di bawah provinsi. Pasalnya, Fauzi Bowo alias Bang Foke selama ini nyaris tidak sama sekali mencirikan seorang jawara---tentunya dalam hal prestasi. 

Selebihnya, Foke kelemahan fatal yang membuat pencapaiannya di putaran pertama jeblok. Pertama, partai pengusungnya, Demokrat merupakan parpol yang sedang mengalami penurunan popularitas cukup tajam. Berdasar berita TEMPO.CO  pada 7 Februari 2012, popularitas partai pemenang pemilu 2009 itu turun sampai 13,7%. Jika pemilu diadakan tahun ini, mereka hanya bertempat di posisi ketiga di bawah Golkar dan PDI Perjuangan.

Jikapun pihak Demokrat melakukan serangkaian lobi-lobi politik, itu juga tidak akan membantu banyak. Mengutip beberapa pemerhati politik, Indonesia belum pernah mampu menciptakan kader-kader politik fanatik. Tidak ada yang benar-benar begitu saja mengangguk pada titah partai politik. Pun, mengkomparansikan dengan kesuksesan awal Jokowi meraup suara berjumlah besar, diyakini bukan semata-mata pengaruh partai pengusungnya. Justru, masyarakat sudah jauh lebih dulu mengetahui informasi jauh-jauh hari, siapa yang akan dan harus mereka pilih. Senada disebut Direktur Sugeng Sarjadi Syndicate, Toto Sugiarto (TEMPO.CO).

Kebetulan, saya merupakan salah satu yang turut mengikuti perkembangan kandidat lewat internet. Twitter, Facebook, Blogspot, Kompasiana, Forum Tempo, dan berbagai portal berita. Saya menemukan itu. Lebih tajam, 9 dari 10 komentar di sana cenderung antipati terhadap Fauzi Bowo. Salah satu situs, Politicawave merupakan salah satu media yang getol membidik ini.

Merujuk Politicawave, sejak Juni sudah terbaca keunggulan Jokowi dibanding dengan Foke. Tentu mereka tidak mengada-ada. Serangkaian pengamatan terhadap aktifitas dunia maya mereka pantau sedemikian rupa. Tak mengherankan, kemudian 'ramalan' situs yang launching pada 1 Mei 2012 itu menunjukkan kebenarannya. Foke harus merunduk di bawah mistar gawang setelah skuat Jokowi melesakkan gol cukup telak dengan angka tidak sederhana: 34,18 banding 43,04.

Kemudian, saya kira, pola komunikasi calon gubernur yang pernah memenangi pemilihan gubernur 2007 itu turut membawa pengaruh. Bahasa tubuh yang ia tonjolkan terkesan tidak ramah. Ini padahal bukan persoalan sepele, karena ia---mengutip Dale Carnegie---bukan hanya berhadapan dengan makhluk berpikiran, namun juga berperasaan. (FOLLOW: @zoelfick | Gbr: RimaNews)


30 Juni 2012

Mewujudkan Hunian Ideal Lewat Bank, Mungkin Saja


Merencanakan untuk memiliki hunian atau tempat tinggal, tentu saja menjadi suatu pilihan bijak bagi mereka yang yakin bahwa mereka tidak hanya hidup hari ini saja.

Pilihan demikian kerap diidentikkan sebagai keinginan mereka yang sudah berkeluarga saja, untuk tidak perlu mengontrak berlama-lama. Atau, agar untuk terbebas dari perasaan tidak enak, bagi yang tinggal bersama orangtua/mertua.

Di sini, saya sebagai lajang pun berpandangan bahwa perencanaan untuk memiliki rumah, jauh-jauh hari sebelum menikah dipersiapkan terasa lebih ideal.

Beberapa kasus saya dapati, ada sebagian kenalan yang harus mengalami kekisruhan rumah tangga karena persoalan itu. Rumah pribadi yang tidak kunjung berhasil terbeli, di tengah kebutuhan keluarga yang kian meninggi, tak urung membuat istri mendadak ‘hipertensi’. Ya, artinya memang ketika permasalahan yang berhubungan dengan ini terkesampingkan, konflik rumah tangga pun kian rentan terjadi.

Kasus lain yang terkesan berlebihan namun masih senada dengan yang saya sebut sebelumnya adalah ketiadaan rumah membuat istri menjadi tidak memiliki kepercayaan pada suami. Tidak kurang, si lelaki yang menjadi suami pun menjadi kehilangan rasa percaya diri. Kemudian yang terjadi, pernikahan yang sudah jauh lebih dahulu dibangun, harus memilliki cerita dengan sad ending bernama perceraian.

Buruk, jelas sangat buruk. Kejadian yang tidak diharapkan tersebut terjadi karena kurangnya perhatian pada sesuatu yang sejatinya menjadi pondasi bagi sebuah keluarga. Kurang bijak jika kemudian, kejadian begini dengan entengnya diarahkan penyebabnya pada sesuatu yang non-materi saja, semisal; komitmen antar pasangan yang kurang, cinta yang keropos, dlsb yang mirip sinetron itu.

Padahal kalau menilik secara jujur, meski atribut yang bersifat materi bukan segala-galanya, tapi tanpa atribut itu juga segala-galanya berpeluang menjadi masalah. Seperti tubuh, tentu tidak adil menyebut daging lebih penting dari kulit, sedang pada kenyataannya justru kulit juga yang melindungi daging. Sebab, para riilnya, luar dan dalam itu saling melengkapi satu dengan lainnya.

Maka, mengembalikan pada rumah tangga, memikirkan rumah ideal yang layak untuk keluarga, juga tidak jauh beda. Itu pula yang saya tekankan pada diri sendiri. Tak ayal, beberapa tahun terakhir, saya mendadak rajin mencari berbagai informasi untuk bisa mewujudkan sebuah keinginan. Yap, keinginan itu adalah mendapatkan sebuah rumah pribadi.

Memang, terkadang ada saja yang membisiki, kenapa harus terlalu dini memikirkan soal rumah padahal sampai saat ini masih hidup sendiri? Ketika mendapat pertanyaan begini, saya hanya mengatakan, jangan lihat ini sebagai sesuatu yang terlalu tergesa-gesa, tapi lihat saja bahwa kaki yang lebih dulu melangkah maka yang lebih dulu itu nanti yang kemungkinan lebih cepat tiba di tujuan. Sembari, mencoba mengumpulkan recehan demi recehan untuk bisa mewujudkan mimpi tersebut.

Belakangan, saya juga menjadi rajin membuka-bukan website yang berhubungan dengan perumahan. Tentu saja, saya tidak bisa menampik keberadaan bank, yang dalam pandangan saya cenderung berpeluang membantu untuk bisa mempermulus rencana itu.

Dari hasil browsing pula, perhatian saya terpacu pada Web Bank BCA. Saat membuka web bank tersebut, saya bukan sedang membawa mimpi ingin menabung sebanyak-banyaknya seperti Paman Gober di cerita Donald Bebek. Melainkan, ya, apalagi kalau bukan tentang rencana yang tidak jauh-jauh dari keinginan saya untuk bisa membeli rumah. Kebetulan, kebutuhan informasi itu sedikitnya terjawab di sana karena juga ternyata menjadi bagian produk perbankan yang disediakan Bank Central Asia tersebut.

Di sana saya membuka halaman Hunian Ideal. Muncul kemudian, saya mendapati beberapa baris kalimat cukup mengundang: 

1. Sebagai bank yang mengerti kebutuhan nasabahnya, BCA memberi solusi pembiayaan bagi Anda yang ingin mewujudkan impian membeli rumah idaman. 

2. Untuk mempermudah Anda dalam melakukan pembiayaan angsuran per bulannya, kami memberikan pilihan tipe angsuran yang disesuaikan dengan kebutuhan Anda, yaitu Angsuran Tetap atau Angsuran Fleksibel.

Makin terpacu ketertarikan saya untuk meng-klik lebih lanjut. Saya tekan Angsuran Tetap. Muncul kalimat yang cukup mengundang, seputar manfaat yang bisa diperoleh seorang nasabah yang memilih tipe pilihan tersebut.

Meluncur penjelasan awal yang memberikan saya informasi bahwa, Angsuran Tetap menguntungkan karena: Kepastian angsuran bulanan, dan lebih mudah mengatur keuangan. Yang terakhir ini, tentunya merupakan tawaran menggiurkan untuk siapa saja yang ingin leluasa menciptakan kebebasan finansial.

Berlanjut pada pilihan suku bunga. Saya dapati, terdapat tiga pilihan: fix 1 tahun pertama, fix 2 tahun pertama, dan fix n cap dengan kepastian suku bunga hingga 5 tahun. Tidak ketinggalan, setelah mencoba membuka lebih lanjut, saya peroleh penjelasan lebih terang terkait manfaat dari bunga fix 1 atau 2 tahun. 

Di antaranya yang tertulis di sana: Memberikan kepastian suku bunga selama 1 atau 2 tahun pertama. Kemudian,  setelah masa suku bunga fix berakhir, maka akan diberlakukan suku bunga floating  yang ditinjau secara berkala sampai dengan masa kredit berakhir. Juga, bebas penalti untuk pelunasan dipercepat.

Sedangkan pilihan satu lagi dengan model Fix n Cap, dijelaskan manfaatnya: Kepastian angsuran sampai dengan 5 tahun. Aman karena memberikan bunga tetap di 3 tahun pertama, dan 2 tahun berikutnya berlaku suku bunga floating yang tidak akan melebihi maksimal yang ditetapkan. Setelah masa suku bunga Fix n Cap berakhir, maka akan diberlakukan suku bunga floating yang ditinjau secara berkala sampai dengan masa kredit berakhir.

Selain itu semua, juga terdapat beberapa tips yang diberikan di bawah penjelasan dimaksud. Tentu saja ini lumayan membantu siapa saja yang ingin mengambil pilihannya. Beberapa tips yang diberikan di sana adalah:

1.       Perhatikan juga kestabilan suku bunga floating yang berkala.
2.      Semakin rendah dan stabil suku bunga floating maka Anda akan semakin aman, nyaman, dan hemat.

Selebihnya, terdapat Angsuran Fleksibel. Angsuran dengan model ini memberikan beberapa keuntungan yang dijelaskan di sana berupa: keleluasaan dalam menentukan jumlah angsuran bulanan, dan kemudahan menarik dana kembali dari jumlah angsuran pokok yang sudah dibayarkan. Di sini terdapat KPR X-Tra yang ditawarkan.

Pilihan yang seperti ini tepat bagi yang merasa tidak puas dengan fasilitas peminjaman yang biasa saja. Disebutkan, pilihan ini berpeluang memberikan manfaat berlipat ganda. Untuk pembayaran, kredit ini memiliki dua metode pembayaran yang membantu angsuran terasa lebih ringan, dana siaga yang yang sedia setiap saat, dan keuntungan layanan KPR lainnya.

Juga disebutkan beberapa keuntungannya di sana. Keunggulan utama untuk pilihan ini adalah: Angsuran yang Fleksibel, dana siaga yang bisa ditarik sewaktu-waktu, bunga rendah, angsuran ringan, syarat mudah, dapat men-top up jumlah pinjaman, suku bunga floating yang rendah dan stabil, bebas penalti (kecuali untuk program bunga dalam masa fixed) untuk pelunasan dipercepat baik sebagian dan seluruhnya.

Untuk orang-orang seperti saya yang memiliki keinginan untuk bisa mewujudkan mimpi mendapatkan rumah seperti yang diimpikan, info dari website BCA tersebut sangat membantu. Iya, paling tidak apa saja yang sudah direncanakan bisa lebih mudah dimatangkan dengan ketersediaan informasi demikian. Sedang nanti pilihan mana yang akan diambil, saya kira bisa disesuaikan saat keputusan sudah dijatuhkan untuk melepaskan keinginan dari penjara mimpi, melepasnya ke taman kenyataan.

Ya, target saya pribadi sebagai bagian rencana masa depan, dalam tiga tahun ini, salah satu mimpi ini akan saya wujudkan. Insya Allah, BCA menjadi pilihan karena mereka sudah terkenal sebagai lembaga yang memiliki solusi perbankan yang mampu menjawab kebutuhan kekinian. Selain, kemudahan transaksi yang saya dapati dari kabar beberapa rekan yang sudah mewujudkan mimpinya lewat bank itu.

Pun, harus saya akui terpicu juga dari petunjuk yang saya dapat di sana membuat peta saya menuju titik keinginan mendapatkan sebuah rumah pribadi terasa lebih terang! (FOLLOW: @zoelfick | Sumber Gambar: RumahIdaman.Blogspot.com)



15 Juni 2012

Mengintip Dapur Indosat di Workshop Seamless Wifi

Berjibaku di jalanan. Merayap di tengah kemacetan siang hari sepanjang Slipi ke arah Kantor IM2 di Kebagusan. Ya, sebuah perjalanan di tengah terik matahari yang cukup menyengat. Ini tidak akan menjadi masalah bagi mereka yang berangkat dengan mobil ber-AC. Tapi, justru saya dan rekan muda Choirul Huda hanya mengendarai sepeda motor, memenuhi undangan dari rekan di Indosat, Hazmi Srondol untuk acara yang terbilang berat: Workshop SEAMLESS Wi-Fi (15/6).

Titel acara saja sudah membuat kening saya mengerut. Maklum, meski sehari-hari harus berkutat dengan dunia yang tidak jauh dengan internet dan teknologi terkait, tetap titel acara seperti itu terasa asing buat saya. Saking terbebani dengan jenis workshop demikian, meski saya hanya diundang sebagai partisipan, tetap saya sedikit stress. Bukan apa-apa, bagaimana jika di sana nanti saya tidak bisa berkontribusi apa-apa?

Syukurnya, saat saya tiba kesana setelah sempat tersasar karena lokasi yang belum familiar, acara baru saja sekadar obrol-obrol dengan seorang pemandu acara, belum ke acara pokok. Di sana, baru tiba, ditawarkan untuk memberikan tips-tips seputar interaksi di dunia internet. Topik yang diminta angkat mengundang saya untuk nimbrung. Bergegas, angkat tangan, dan saya beri beberapa tips.
Saat itu, saya hanya mengajak untuk realistis dalam berinteraksi di jagad cyber. Juga menyarankan untuk apa adanya saja. Artinya, saya tetap menyampaikan jika pergaulan di dunia maya tidak perlu bermain topeng, seperti halnya sebagian kalangan yang merasa nyaman pergunakan topeng. Apalagi, karena saya berpandangan jika topeng dipergunakan dalam bergaul, hampir dipastikan, yang didapati juga sesuatu yang senada dengan "topeng". Maka, saya mencoba bidik persoalan itu pada kesempatan ketika itu.

Tidak saya sangka-sangka, selesai memberi tips dimaksud, saya diberikan penghargaan oleh mereka. Ya, mungkin hanya dua voucher pulsa dengan harga 50.000, tapi saya tetap berterima kasih. Kendati, tips yang coba saya ketengahkan bukan karena alasan itu. Melainkan, memang saya menginginkan untuk setiap pertemuan-pertemuan pegiat internet yang saya hadiri, untuk bisa menyebar pikiran positif dalam interaksi---sebagai misi pribadi.

Di sana, beberapa jenak, mendengar penyampaian materi dari beberapa petinggi Indosat yang kebetulan hadir. Terdapat banyak pesan dan rencana-rencana dari pihak perusahaan yang bergerak di telekomunikasi itu. Salah satunya yang menarik disampaikan oleh M Imam Nashiruddin, sejalan dengan tema workshop, adalah persoalan berkait dengan upaya menciptakan manuver teknologi yang memudahkan pengguna internet di Indonesia. Mereka menamakannya dengan Seamleass Wi-Fi-EAP SIM.

Dari beberapa penuturan yang disampaikan petinggi Indosat itu, saya mendapati sebuah kesimpulan, perusahaan telekomunikasi itu sedang berupaya menciptakan manuver-manuver. Hal itu lebih ditujukan untuk memudahkan pengakses internet lebih leluasa merambah jagad cyber. Terang saja, itu merupakan sesuatu yang luar biasa saya kira. Jika nanti mereka, dengan program itu bisa membuat kalangan pegiat cyber tidak lagi harus merasakan kedongkolan seperti halnya saya mempergunakan salah satu jenis modem.

Ya, jika ditanyakan ke saya, apa yang harus dilakukan pihak operator itu. Gamblang saja saya akan menjawab, jangan bikin dongkol konsumen. Karena, beberapa kalangan perusahaan yang bergerak di bidang serupa, kerap tidak menaruh perhatian pada kenyamanan konsumen. Sebagai perbandingan, modem yang saya pergunakan memiliki merek yang identik dengan "murah". Artinya, mereka menawarkan fasilitas yang murah, dan itu memikat, sayangnya kemampuan jaringannya buruk. Itu sama saja penipuan jika kemudian tidak bisa menjawab kebutuhan konsumen yang jauh lebih penting dari sekadar harga; keleluasaan.

Bagi saya, pihak mana saja yang bergerak mengfasilitasi alat untuk berinternet, sejatinya lebih memperhatikan perihal itu. Tidak keji mencari pasar dengan jargon-jargon dan slogan semisal ANTI LELET, tapi saat barang yang ditawarkan dipergunakan, justru pikiran pun lelet mengikuti modem yang digunakan. Akan tetapi, mengembalikan pada workshop yang diadakan Indosat ini, mereka memang tidak membahas soal modem. Tapi mereka lebih mengangkat inovasi seputar kemudahan akses internet bagi penggunanya, tanpa harus terbebani dengan modem-modem yang bikin dongkol. (FOLLOW: @zoelfick)

Wajah Buruk Bangsa Eropa di EURO 2012

Tiba-tiba saja, saya jadi tercenung dengan berbagai berita yang berhubungan dengan perhelatan sepakbola bangsa-bangsa Eropa. Betapa tidak, selama ini mereka yang digadang-gadang sebagai kalangan bangsa "wah", nyatanya tidak lebih baik dengan bangsa-bangsa yang konon mereka sebut sebagai bangsa "dunia ketiga". Tindakan suporter di perhelatan EURO 2012 mengesahkan itu.

Jauh sebelum pesta bola bangsa Eropa itu berlangsung, isu yang berhubungan dengan rasisme sudah mencuat. Banyak kalangan menaruh harap, itu hanya terhenti pada desas-desus saja. Tidak dinyana, belakangan hal itu tidak sekadar desas-desus. Persoalan rasisme masih tetap juga muncul. Bukan itu saja, tetapi kekisruhan berupa bentrokan antar suporter juga terjadi. 

Beberapa kali, penonton di stadion juga menunjukkan sikap yang "kampungan"--merujuk istilah umum di Indonesia. Saat laga berlangsung, ada saja penonton yang melempar petasan ke lapangan. Beberapa kali pertandingan harus dihentikan akibat ulah suporter demikian. Pihak keamanan dan pihak berwenang yang katanya sudah melakukan berbagai macam langkah antisipasi, akhirnya juga tidak bisa berbuat banyak. 

Pelajaran buruk yang dibawa perhelatan Piala Eropa kali ini adalah sikap suporter seperti itu. Mereka yang katanya sudah jauh lebih maju, masih juga melakukan tindakan-tindakan yang mengarah ke anarki. Misal, Balotelli menjadi sasaran pelecehan, lagu kebangsaan Italia diremehkan, dan tawuran yang melibatkan suporter Rusia. Padahal, di sisi lain pesta bola seperti itu sejatinya menjadi alat untuk masyarakat dunia belajar banyak hal. Belajar tentang perjuangan menjadi juara, nilai persatuan, dan lain sebagainya.

Mengembalikan pada tujuan positif yang tersirat diangkat oleh suguhan dalam berbagai laga di kejuaraan itu, memang ada. Hanya saja, tetap persoalan yang berkisar pada anarki seperti itu juga masih menjadi sebuah masalah yang tidak sederhana. Betapa, mereka memperlihatkan sebuah wajah yang sangat tidak enak dipandang. Sedang itu tidak akan menjadi masalah besar, andai Piala Eropa bukanlah pesta bola terbesar yang menyedot perhatian masyarakat dunia.

Di antara berbagai ajang bola tingkat benua, tidak bisa ditampik, hanya Piala EURO saja yang kuasa menarik perhatian masyarakat dunia. Jika di lokasi perhelatan, pertandingan berlangsung sore hari, di tempat lain ada yang bahkan menjelang pagi. Demikian banyak masyarakat dunia, seperti halnya Indonesia, menghabiskan waktu malam hari untuk pelototi televisi hanya untuk melihat pertandingan bola yang disuguhkan. Namun, juga tidak bisa ditampik, pengorbanan yang sekaligus dukungan penonton setia perhelatan itu harus menyimpan kekecewaan akibat dikotori ulah suporter.

Di sini, UEFA yang notabene sebagai "penguasa" dalam ajang itu, menjadi salah satu pihak yang terbilang gagal. Mereka yang pada dasarnya menjadi penanggung jawab, luput memetakan secara gamblang kemungkinan buruk yang akan terjadi. Ditambah dengan keputusan, Polandia dan Ukraina dijadikan tempat untuk laga-laga merebut piala bergengsi, EURO CUP 2012. Keputusan yang justru membuat ajang itu menjadi kian semrawut. Ini, maka mereka juga menjadi pihak yang patut dipersalahkan. (FOLLOW: @zoelfick) | Ilustrasi: KOMPAS.COM

13 Juni 2012

Perjuangan Nyeleneh Dua Guru Lewat Blogging

Guru acap diidentikkan dengan figur-figur serius. Cenderung dikaitkan dengan orang-orang yang sulit tersenyum, kaku, dan berbagai macam stereotype yang sepertinya memang sudah dibangun sejak jaman Belanda.

Tapi, keberadaan internet sudah mengubah secara pelan-pelan "brand" yang terbangun itu. Mereka berjuang lewat menulis, dan mereka berjuang lewat candaan. Dua figur itu adalah Bain Saptaman dan Yusuf Dwiyono.

Mungkin tidak semua perambah dunia internet mengenal dua figur tersebut. Atau, boleh jadi juga mereka adalah tetangga, atau paling tidak pernah berguru pada mereka.

Iya, Bain adalah guru bahasa di salah satu sekolah di Yogyakarta. Sedang yang satu lagi, Yusuf adalah guru yang mengajar mata pelajaran seni di salah satu sekolah favorit di Jakarta.

Keduanya merupakan kawan akrab saya, memang. Terkadang acap tertawa, meledek, dan tidak jarang juga membahas sesuatu secara serius. Artinya, dua figur yang disebut adalah sosok yang sangat fleksibel. Satu sisi mereka loyal dengan profesi yang dijalankan. Tetapi, di sisi lain, mereka juga menyediakan waktu dengan bermain-main. Menariknya adalah, mereka bisa bermain-main dengan sesuatu yang membawa manfaat. Yap, mereka mengusung ide, apa yang sebaiknya dilakukan untuk siswa, "makhluk" yang saban hari mereka akrabi.

Kemampuan mengemas sebuah misi seorang guru dengan kepiawaian berhumor ria, saya kira bukan pekerjaan mudah. Apalagi, sebagai guru, tak pelak sangat menyita waktu mereka. Sebab, jika pada sehari-hari siswa dengan leluasa ngedumel bahwa guru seenak udelnya saja memberi pekerjaan rumah. Padahal, guru pun memiliki tugas tidak ringan usai memberi PR itu. Dari memeriksanya, dan terkadang harus membaca tulisan yang mirip cakar ayam.

Keruwetan pekerjaan itu tidak menjadi halangan untuk mereka tertawa. Iya, mereka menyebar tawa lewat tulisan-tulisannya. Yusuf Dwiyono dan Bain Saptaman kerap menulis di blog Kompasiana, yang notabene sebagai wadah citizen journalism di bawah raksasa media, Kompas.

Mereka bisa menulis lebih dari 10 tulisan dalam seminggu. Sedang penulisan mereka cenderung ringan dan dipastikan tidak njelimet. Namun, saat mengulik lebih dalam, apa yang mereka bincangkan di sana, terdapati pesan-pesan tersirat. Seperti Bain, dalam salah satu tulisan di blog itu, ia menyindir persoalan penilai terhadap siswa berdasar angka. Di sana, ia menceritakan tentang seorang siswa yang tewas seusai ujian. Saat diperiksa di alam kubur, apakah ia akan ke surga atau ke neraka, si anak berdalih nilai agamanya baik: 9,8. Anak itu merasa dengan angka itu akan membantunya bahkan sampai ke alam kubur.

Tidak jauh beda halnya dengan Yusuf Dwiyono yang sosoknya pernah saya temui langsung di Gramedia Matraman beberapa waktu lalu. Ia, selain bercerita, juga memuat satir-satir renyah namun berisi. Ia juga menembak kondisi aktual di dunia pendidikan.

Dalam tulisan terakhir saya baca, Yusuf menceritakan perdebatan seorang anak dengan orangtuanya. Si ortu protes, kenapa rangking anak itu bisa begitu buruk. Tidak kurang, ayah si anak tersebut bahkan membandingkan dengan mantan presiden.

"Nak, waktu seusia kamu, Presiden Soeharto mendapat rangking satu lho."
"Lah, tapi presiden itu juga seusia ayah sudah jadi presiden, kok ayah cuma jadi pegawai biasa?"

Tanpa perlu dijelaskan gamblang, terang terlihat kandungan pesan yang diangkat oleh kedua pahlawan paling berjasa di dunia itu (saya tidak suka menyebut guru pahlawan tanpa tanda jasa). Tentu saja, muatan kritik dunia pendidikan yang mereka angkat tidak itu saja. Banyak tulisan lain mereka tuliskan dalam blog mereka. Kendati ada pula topik di luar pendidikan, namun secara garis besar tidak terlalu jauh dari dunia yang mereka geluti.

Bain Saptaman adalah guru pecinta musik, mengidolakan The Beatles. Pun, ia gandrung dengan sepakbola, dan ia mengaku fans Liverpool. Sedang Yusuf Dwiyono, menjelaskan dirinya dengan satu bahasa filosofi yang sekilas ringan:"Menjadikan pertemanan dengan orang waras untuk mengetahui kegilaannya, menjadikan pertemanan dengan orang tidak waras agar tidak terketahui gilanya." Tentunya Yusuf menjelaskan sikap pribadinya dalam memandang hidup, bahwa di sana selalu ada kandungan positif dari sekonyol apapun pengalaman yang ditemui dalam kehidupan.

Begitu sekilas tentang dua guru yang kerap tertawa dan bercanda dengan saya di dunia internet. Mereka masih terus konsisten menulis, kendati tidak sok-sokan serius. Sejak 5 Februari 2010 sampai tulisan ini saya tulis, Bain sudah menulis di blog sejumlah 698 artikel. Sedang Yusuf, 5 Juli 2010 sudah menulis di blognya sebanyak 98 artikel.

Tidak perlu kening yang terlalu mengerut. Namun harus dilihat upaya perjuangan yang mereka gagas dengan model yang sederhana. Mereka mengusung sebuah misi pendidikan yang agung. Di sini mereka adalah figur guru yang telah mengtransformasi keberadaan blog dengan cukup bijak. Anda, pasti mendukung mereka, bukan? Salam pendidikan! (FOLLOW: @zoelfick | Photo dicuri dari FB kedua guru tersebut)

12 Juni 2012

Jaya Suprana dan Tren Istilah "Jamu"

Jujur, memang saya terpukau dengan pandangan Jaya Suprana. Ya, ini berkait dengan pendapatnya soal istilah yang mulai mengtradisi. Kendati tak bisa dipungkiri, jika soal gempuran istilah berbau asing sudah demikian gencar, tapi Jaya 'menjaga gawang' di istilah yang notabene melekat erat dengan keindonesiaan. Itu adalah "jamu" yang hari ini pelan-pelan dicoba gantikan banyak kalangan, terutama dokter dengan istilah "herbal".

Hari ini, tidak bisa ditampik, istilah herbal sudah sedemikian lazim dipergunakan banyak masyarakat. Memang, kita tidak bisa main klaim bahwa mereka yang pergunakan istilah dimaksud sebagai "sok keren" dan lain sebagainya. Sebab boleh jadi mereka memilih demikian, lebih karena alasan estetika--dalam perspektif mereka tentunya. Atau, bisa jadi juga karena alasan lainnya, yang luput kita ketahui.

Namun demikian, tawaran Jaya Suprana seperti dilansir Detik cukup menarik saya kira. Tanpa ia sepelekan sebagian kalangan yang mencoba gantikan istilah Jamu dengan Herbal, tapi ia mengajak untuk tetap pada "keindonesiaan." Betapa, bahwa sebutan jamu memang lebih terasa menasional daripada herbal yang lekat dengan Inggris,"herb" yang mengacu pada obat dari tanaman.

Bagi saya, terlepas ia sebagai seorang pengusaha jamu, namun ajakannya itu layak disambut positif. Apalagi mengingat, jamu itu tidak hanya sekadar obat-obatan yang dikenal ratusan tahun di bumi nusantara ini. Ia memiliki nilai lebih dari itu. Bahwa di sana terdapat poin kekhasan dan kemelekatan pada tradisi, budaya, dan jatidiri. Sayang, jika sesuatu yang mencerminkan kekhasan identik seperti itu begitu saja digeser.

Apa yang dikatakan Jaya Suprana terkait itu,"Ada perhimpunan dokter yang meresepkan jamu untuk pasiennya, tetapi mereka menggunakan kata herbal. Jamu saat ini perlahan-lahan mulai dibinasakan di masyarakat," ungkap Jaya Suprana seperti dikutip Detik

Keprihatinannya itu, sekeyakinan saya bukan keprihatinan versi seorang pengusaha. Tetapi, di sana juga terdapat kegelisahan, jika berbagai hal yang khas dengan negeri ini pelan-pelan tergeser. Terlepas pergeseran itu dilakukan karena berbagai alasan, entah untuk lebih mempermudah identifikasi secara ilmiah, atau alasan apa saja.

Di Indonesia, pengonsumsi jamu memang berkisar 59,12%. Tidak terlalu tinggi memang. Tapi paling tidak, mereka juga menjadi bagian yang masih menaruh kepercayaan pada resep-resep masa lalu. Sesuatu yang konon sebagai bagian peninggalan tradisional. Meski angka itu demikian, namun, tidak bisa ditampik, di sana menyimpan sesuatu yang tidak sederhana, seberapa apresiatif kita terhadap tradisi negeri sendiri.

Semoga saja, dukungan saya pada tawaran Jaya Suprana tidak dipandang sebagai sesuatu yang berlebihan. (FOLLOW: @zoelfick | GBR: JogloSemar)

10 Juni 2012

Pengakuan Casillas: Spanyol Nervous Hadapi Italy

Selepas menggarap pekerjaan sendiri. Saya mencoba mencari berbagai data yang berhubungan dengan dua kiper tangguh, Iker Casillas dan Gianluigi Buffon. Sampai saya terbawa ke salah satu website Italia, Football-Italia. Di sana saya mendapati artikel yang menyampaikan pernyataan kiper Spanyol, Casillas dalam kaitan dengan laga melawan tim Azzuri.

Di sana, Casillas menyatakan jika skuat Spanyol merasakan sedikit nervous bin tertekan menjelang pertandingan beberapa jam lagi itu."Jelas sekali, kami merasakan nervous dengan laga seperti ini." Diakui juga oleh kiper tersebut, kendati menginginkan bisa mengulangi kegemilangan empat tahun lalu, namun itu tidak mudah.

"Mereka memiliki pemain yang cukup prestisius, seperti Buffon dan De Rossi," tambah Casillas lebih lanjut. Apalagi, pertarungan tersebut persis bertepatan dengan kepastian negara mereka, Spanyol, baru dililit dengan masalah keuangan."Kami memang tidak berpikir bahwa laga ini nanti akan mudah. Kami percaya atas kekuatan yang mereka miliki," terang sang kiper lebih lanjut. (FOLLOW: @zoelfick)

Klarifikasi Mr Bean Usai Dirinya Dijadikan Alat Kibuli Publik

Akhirnya terbukti sudah, film yang diprakarsai KK Dheraj bertajuk Mr Bean Kesurupan Depe, tidak lebih sebagai pembohongan publik. Nama Mr Bean dibawa-bawa Dheraj, hampir dipastikan karena berharap dengan kualitas film seadanya tapi bisa meraup keuntungan besar. Tetapi, syukurnya, niat culas produser dimaksud lekas diketahui publik.

Per hari ini, di beberapa media, produser berdarah India itu masih mencoba mencari kilah. Kesan yang coba ia munculkan, persoalan itu bukan penipuan, toh memang ia tidak membawa nama Rowan Atkinson. Memang, di sana ia hanya cantumkan nama Mr Bean saja. Tapi, jutaan penduduk dunia itu tahu, ketika menyebut Mr Bean, dengan sendirinya menunjuk ke Rowan Atkinson yang menjadi pemeran tokoh jenaka itu.

Sayangnya, alih-alih minta maaf pada publik yang dikibuli, Dheraj masih mencoba mencari dalih. Ia sepertinya berharap besar dengan dalih itu, ia bisa membuat publik mengangguk. Ia lupa, hari ini masyarakat umumnya sudah membuka mata. Mereka tidak mentah-mentah menerima begitu saja, apalagi sekadar sebuah dalih.

Saya kira, pilihan sikap Dheraj demikian sangat tidak terpuji. Hal itu kian menegaskan kualitas dirinya di tengah kancah perfilman Indonesia. Orang bisa saja berasumsi, wajar jika dengan kualitas kepribadian demikian, hanya bisa hadirkan film-film yang sama tidak berkualitas dengan dirinya. Tentu saja, asumsi seperti ini mengarah ke personalnya. Meski demikian itu jelas tidak baik, apa boleh buat, toh publik pun tersakiti dengan mental culas yang ia munculkan.

Jadi teringat beberapa waktu lalu, saat saya datang ke salah satu bioskop di alun-alun Bandung. Di sana bahkan dipajang satu boneka yang mirip persis dengan Mr Bean. Boneka dimaksud bahkan dilengkapi dengan aksesories pocong. Sayangnya saya tidak memotret itu.

Ketika itu, beberapa anak kecil yang dibawa ibunya ke bioskop tersebut menjerit histeris ketakutan. Betapa, ini mencerminkan brand yang dicoba bangun oleh KK Dheraj bisa dikatakan sangat berlebihan. Syukurnya, kebohongan itu memang seperti air yang dangkal, apa yang tersembunyi di baliknya dengan mudah diketahui. Sekarang, tidak hanya Dheraj, tapi Dewi Perssik pun, sebenarnya sedang melakukan 'bunuh diri'.

Masuk akal, toh. Mereka sudah mengibuli demikian banyak masyarakat. Tentu saja sikap demikian akan berbenturan dengan hukum timbal balik yang memang sudah ada secara natural. Bukan tidak mungkin, jika mereka tidak melakukan permintaan maaf pada publik, kelak tidak ada lagi film produk mereka akan disentuh masyarakat. Sedang mereka, sudah terlanjur menjadikan dunia film sebagai "periuk nasi".

Hari ini, lewat dunia maya, di Facebook, tepat di Fanpage Mr Bean, tidak kurang dari 5400 masyarakat Indonesia  memprotes keculasan Dheraj dan Perssik. 1130 di antaranya lengkap dengan komentar yang umumnya berisikan ketidaksetujuan pada sikap Dheraj melakukan penipuan demikian. Bahkan beberapa menjurus ke rasis, mendiskreditkan India sebagai bangsa. Tentu karena Dheraj sendiri berdarah India.

Akibat ulah Dheraj demikian, tak pelak ia pun sudah berdosa pada masyarakat India yang notabene sebagai moyangnya sendiri. Semoga saja, film Indonesia tidak sampai dihancurkan oleh kalangan sendiri yang menyebut dirinya sebagai insan film nasional. (FOLLOW: @zoelfick) | Gambar: Fanpage Mr Bean.

09 Juni 2012

Tentang Perempuan Pemecah Batu

Kepalaku itu batu dan tak ada palu yang bisa mengubahnya menjadi sehalus debu. Tapi, lagi-lagi perempuanku jua yang tahu, seperti apa mengubahnya bahkan lebih lembut dari salju. Ia tidak butuhkan palu, tetapi hancurkan segala  beku.

Ah, sebenarnya aku hanya sedang ingin bicara tentangnya, tentang perempuanku yang kusebut tidak pergunakan palu itu. Masih berkait dengan kelu yang tak sengaja ia sisipkan di pikiranku beberapa hari lalu. Ketidaksengajaan yang membuatku berkeinginan untuk membisu hingga sewindu. Tapi, tidak mudah melakukan itu.

Ketidaksengajaan pula yang membawaku pada catatannya. Ia mencatat tentang sekian cerita yang terjadi di masa lalu. Cerita tentang perjalanan yang penuh liku, tentang ketika seribu pintu diketuk namun malah membuat harapan kandas menjadi sekadar keinginan semu. Berjalan di jalanan yang dipenuhi asap dan debu, berhadapan dengan sekian banyak orang yang lihai memberi keramahan yang juga semu.

Ia menceritakan itu lagi di catatan ringkasnya. Ia mencoret itu dengan bahasa yang sederhana saja. Tak luput, ia ingatkan kebersamaan di perjalanan yang awalnya nyaris seperti tak bertujuan. Ia menoreh itu semua di halaman-halaman tanpa kertas, sedang pada saat yang sama ia menulis itu juga di hatiku. Ia, sampai kemudian aku memilih untuk tidak lagi membisu. Menyapanya dengan segenap rindu. (FOLLOW: @zoelfick)

08 Juni 2012

Sebelum Perahu Terkayuh

Perahu itu tidak pernah sama dengan kapal besar. Ia berbentuk kecil dan akan lebih kecil jika dibandingkan dengan lautan. Jika dengan kapal saja, terang terlihat kecilnya perahu itu. Jika kemudian dipaksa sepadankan dengan lautan, maka sang perahu hanya menjadi noktah. Hanya menjadi titik. Sedang titik kecil di kertas samudra itu tidaklah terlalu menarik barang kali.

Masuk akal, jika berada di perahu kecil justru membuat badan siapa jua tak leluasa bergerak. Terkadang perahu dihempas ombak yang tak pernah menakar diri saat berlabuh di tubuhnya. Kapan-kapan, iapun bisa saja tenggelam begitu saja. Mengapung. Dipermainkan ombak. Atau, bahkan juga ditertawakan buih.

Ketika kayuh sudah di tangan pengemudi, harusnya yang ingin ikut serta bisa ambil keputusan sigap. Yakin untuk ikut, atau berhenti saja. Atau, boleh jadi merasa lebih tertarik untuk berenang saja. Sebab, teriak-teriak ketakutan bukan membuat perahu bisa berjalan lebih cepat. Justru, akan membikin lajunya terhalang. Pengemudi harus memberi kuping untuk dengarkan teriakan kecemasan itu, sedang saat yang sama ia harus curahkan perhatian untuk siasati gelombang.

Saat perahu sudah berjalan di jalanan biru samudra, tidak ada cerita canda. Tidak pula drama-drama yang seperti diminati remaja. Teriakan-teriakan ketakutan atas riak kecil cuma mengacaukan pikiran saja. Apalagi, seorang pengemudi harus perhatikan suara lautan itu. Apakah airnya sedang ingin membawa angin baik agar perjalanan ke tujuan bisa selekasnya tiba, ataukah ia sedang membawa petaka.

Air itu berbicara, ia berkomunikasi dengan perahu. Sedang lelaki yang mengayuh harus cermat mengamati obrolan mereka itu. Agar perahu tidak pernah tenggelam sekalipun dulu-dulu ia pernah terjungkir, terjerembab, dan bahkan terseret.

Jadi, ketika saat ini kau bersama lelaki itu masih berada di pantai, pertimbangkan. Pertimbangkan sebenar-benar matang. Ingin berangkat mengarungi samudra luas yang seakan tak bertepi itu dengan perahu, ataukah menunggu kapal besar? Perjalanan di lautan itu bukan guyon yang bisa ledakkan tawa lepas, bebas. Tidak ada itu. Jika takut tenggelam, sebaiknya bermain saja di pantai, sambil menunggu kapal besar yang diimpikan. (FOLLOW: zoelfick) | GBR: Amorfosahati

Site Search